Karena untuk Dapat Ide Butuh Waktu Enggak Sebentar

About Author
0 Comments

Saya pernah diundang rapat jam 9 pagi. Saya datang tepat waktu. Ternyata cuma saya dan air mineral gelas yang sudah ngembun.

Jam 9.15, rapat belum mulai. Jam 9.30, masih sepi. Jam 10, baru satu orang datang sambil bawa gorengan.

“Rapatnya belum mulai?” tanya saya.

“Belum. Masih nunggu Pak Kadis. Biasa, beliau jam karet premium.”

Jam 10.30, orang-orang mulai berdatangan. Ada yang baru bangun. Ada yang baru dandan. Ada juga yang baru sadar ini rapat, bukan arisan PNS.

Jam 11, kadis datang. Bukannya buka rapat, malah buka cerita nostalgia.

“Dulu zaman saya masih staf, rapat tuh tepat waktu!”
Tepat waktu? Waktu siapa? Waktu dinosaurus masih hidup?

Setelah 2 jam basa-basi dan gorengan tandas. Rapat ditunda. Kadis bilang, “Karena waktu makan siang udah mepet. Kita lanjut besok.”

Besok? Ini rapat atau drama bersambung?

Di negeri ini, rapat memang bukan untuk menyelesaikan masalah. Tapi untuk menyamakan alasan kenapa masalah enggak selesai.

Saya pernah tanya ke pejabat, “Pak, kenapa rapat kita sering molor?”

Si pejabat jawab dengan anteng, “Karena dapetin ide bagus tuh butuh waktu. Dan kami juga perlu waktu, setidaknya buat ngopi dulu biar dapet ide bagus.” (*)

Further reading

  • Betapa Mahal Alam Membalas

    Meski air sudah surut. Tetapi, duka cita warga dan keluarga korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, belum pulih benar. Pemulihan pascabencana (disaster recovery) itu yang amat berat! (Lontar.co): Trauma oleh bencana, tak mudah menghapusnya. Seorang kenalan yang langsung terlibat dalam bencana tsunami di Aceh 26 Desember 2024, “luka”-nya sampai kini belum pulih. Seluruh […]
  • Ijazah, Hanya Satu Kata, Tunjukkan!

    Di Kantin Nusantara TIM Jakarta, suatu hari di bulan September 2025, obrolan dari seni, sastra, dan akhirnya sampai ke soal ijazah. Masalahnya yang menyita publik Indonesia berbulan-bulan, namun belum ada celah untuk mendapatkan cahaya! (Lontar.co): Kawan, yang juga sastrawan dan akademisi di suatu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu, sampai pada statemen bahwa ijazah Joko […]
  • In Memoriam Tjahjono Widarmanto:  Membaca Tanda ‘Senja Cokelat Tua’  

    Tiba-tiba saya teringat puisi Tjahjono Widarmanto — kembaran Tjahjono Widijanto, keduanya sastrawan, dimuat KBANews, tatkala saya baca kabar lelayu yang dibagikan Tengsoe Tjahjono di FB-nya, Kamis 27 November 2025 pagi. Nama yang disebut terakhir juga sastrawan. Ketiganya adalah akademisi.  (Lontar.co): Puisi itu berjudul “Angin, Malam, dan Catatan Beku”. Ini puisi lengkap Tjahjono Widarmanto (selanjutnya saya sebut […]